Setara Gaji Lulusan S-1, Pengusaha Ancam Hanya Cari Buruh Sarjana

Setara Gaji Lulusan S-1, Pengusaha Ancam Hanya Cari Buruh Sarjana

KabarDunia.com Disaat para serikat buruh yang hingga kini masih terus menuntut agar kenaikan upah minimum provinsi (UMP) pada tahun 2016 nanti naik 50% atau lebih tepatnya mencapai sekitar Rp 3,7 juta per bulan. Sejumlah pengusaha kini justru berbalik mengancam bahwa mereka juga menuntut hanya mau menerima buruh yang telah lulus sarjana (S-1).

“kalau itu memang sampai terjadi (UMP naik menjadi Rp. 3,7 Juta), ya silahkan saja, tapi jangan sampai heran kalau tahun depan kita hanya cari yang lulusan S-1,” ungkap Tutum Rahanta, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) ketika berada di Gedung KADIN Indonesia, kawasan Kuningan, Jakarta, pada Kamis (24/10).

Tutum pun mengatakan bahwa tuntutan gaji yang telah diminta para buruh pada tahun depan itu setara dengan gaji para pekerja dengan lulusan sarjana. Tahun ini saja para pengusaha yang ada di Jakarta dengan sudah merasa berat akibat kenaikan UMP dari yang awalnya Rp 1,5 juta akhirnya menjadi Rp 2,2 juta .

“gaji segitu (Rp 3,7 juta) setara dengan sarjana, jadi kalau gitu buat apa kita cari pekerja yang hanya lulusan SD, SMP atau SMA, toh yang sarjana saja juga gajinya segitu. Sarjana pun yang butuh pekerjaan masih banyak,” ungkap Tutum.

Ia pun mengakui bahwa permintaan para buruh untuk mendesak kenaikan upah 50% tersebut memang merupakan hak mereka. Tetapi jika memang hal itu harus terjadi maka yang bakal rugi juga kalangan buruh.

“Pengusaha sebenarnya tidak mengharamkan kenaikan upah, tapi kan juga ada aturan dan batasannya, kalau nggak sanggup bayar, sementara itu harga produknya semakin mahal, ya tutup, mending beli barang import saja, kemudian jual sendiri, jadi pedagang saja kita,” jelasnya.

Menurutnya pula kenaikan upah yang selalu diminta para buruh memang tidak akan ada habisnya. Kalangan pengusaha pun akan menyikapi hal itu dengan menaikkan harga jual barang mereka karena biaya produksinya yang naik akibat dari biaya upah melonjak.

“Harga barang-barang pasti naik, buruhnya pun nanti nggak cukup lagi penghasilannya, jadi nuntut lagi upah yang lebih tinggi, ini nggak bakal ada habis-habisnya,” tutup Tutum.