Mengenal Lebih Dekat Sang Pahlawan Pada 11 November

File written by Adobe Photoshop? 5.2

KabarDunia.com Hari ini 11 November 2015 sehari menjelang hari pahlawan Nasional, seorang pahlawan yang benar benar memperjuangkan Bangsa dan Agama dilahirkan. Bendara Pangeran Harya Dipanegara atau yang lebih dikenal dengan pangeran Diponegoro terlahir pada 11 November 1785 Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro terkenal karena beliaulah orang yang memimpin  Perang Jawa atau yang lebih dikenal dengan Perang Diponegoro pada tahun1825-1830 melawan kebengisan pemerintahan Hindia Belanda. Perang tersebut tercantum dalam sejarah menjadi sebuah peperangan dengan korban jiwa paling besar dalam sejarah Indonesia.

Asal usul Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah sosok keturunan bangsawan Yogyakarta, beliau adalah putra sulung dari Sultan Hamengkubuwana III, raja ketiga di Kesultanan Yogyakarta.  Bendara Raden Mas Antawirya adalah sebuah nama yang didapatkannya semasa beliau kecil.

Pangeran Diponegoro bukanlah orang yang gila dengan kemewahan dunia, hal ini terbukti disaat Ayahnya yaitu Sultan Hamengkubuwana III ditawari untuk tetap tinggal dan menjadi raja setelahnya, Pangeran Diponegoro menolak keinginan ayahnya. untuk mengangkatnya menjadi raja.

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga beliau lebih suka tinggal dipedesaan.

Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, ia memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang begitu menentang pemerintah Belanda secara terbuka, mendapat dukungan dari para rakyat. Atas saran GPH Mangkubumi, pamannya, beliau hijrah dan membuat markas besarnya di sebuah gua yang bdikenal dengan nama Gua Selarong. Beliau menyatakan perang sabil kepada para penjajah, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat beliau dalam melakukan perlawanan tersebar luas hingga kemana mana, dan saat itupun belanda mengalami kerugian yang begitu banyak.

Berbagai ctipu daya serta muslihat diupayakan Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Bahkan sayembarayang mengiming imingkan hadiah sebanyak 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro, hingga akhirnya beliaupun ditangkap pada 1830. Dan diasingkan ke Pulau Makassar serta menghembuskan nafas terakhirnya diMakassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 dan menutup usianya di usia 69 tahun.