Harga Terjun Bebas, Pertanda Musim Batu Akik Sudah Berakhir?

Harga Terjun Bebas, Pertanda Musim Batu Akik Sudah Berakhir

KabarDunia.com Dampak dari lemahnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia mulai bisa dirasakan. Daya beli dari masyarakat pun saat ini turun drastis serta banyak pengusaha yang mulai gulung tikar. Para pedagang batu akik pun juga mulai banyak yang terkena imbasnya.

Para pedagang batu akik yang berada di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh misalnya, mereka mulai gulung tikar akibat dari rendahnya daya beli masyarakat saat ini karena semakin sulitnya ekonomi. Nazaruddin, Ketua GAPBA (Gabungan Pencita Batu Alam) di Meulaboh pun mengatakan, bahwa daya serap pembeli terhadap batu akik di Aceh saat ini hanya tinggal berkisar dua persen, akibat kondisi tersebut banyak pengusaha yang semakin tidak kuat lagi untuk mempertahankan usaha mereka karena besarnya pengeluaran dibanding dengan pemasukan.

“Sekarang coba anda lihat di Mall Meulaboh yang dulu membludak banyak penjual dan pembeli, hari ini udah sepi. Masyarakat sekarang sudah terjepit dengan perekonomian tentunya juga berdampak terhadap daya beli batu alam di masyarakat” ungkap Nazaruddin seperti yang dilansir oleh Antara, Senin (7/9).

Selain terpengaruh oleh menurunnya daya beli masyarakat, kondisi fluktuasi harga batu akik di Aceh pun juga turut berpengaruh karena tidak adanya standar harga yang jelas. Dia pun meminta kepada pihak pemerintah Aceh untuk ikut turun langsung dalam menyelamatkan usaha batu akik, karena Aceh diketahui memiliki potensi yang cukup besar sumber daya akiknya, tetapi masih bermasalah dengan pasar.

Selain itu, ada beberapa hal yang turut membuat jatuhnya harga aneka macam jenis batu yang berasal dari bumi Aceh tersebut, jika sebelumnya bisa bernilai sampai jutaan rupiah, yakni masih banyaknya aktivitas para penjualan batu yang berbentuk bongkahan untuk dijual keluar Aceh bahkan sampai keluar negeri namun dengan harga bandrol.

Pengusaha sekaligus para pencinta batu akik di Aceh pun berharap adanya kearifan lokal terhadap dunia usaha batu akik ini, mengingat sudah ratusan ton batu alam yang dikeluarkan dalam bentuk bongkahan keluar wilayah Aceh tanpa adanya legalitas pemerintah.

Nazaruddin pun berharap agar pemerintah Aceh mau menerbitkan regulasi terhadap pelarangan mengangkut bongkahan batu keluar dari Aceh serta menetapkan sebuah standar harga untuk memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat serta pengusaha.

“Di luar Aceh sana sudah ada harga tetapnya, sedangkan kita sendiri baru setengah jadi, bahkan kadang masih bongkahan sudah dibawa keluar. selain itu masyarakat juga harus kreatif dalam merekayasa batu, kalau bisa dijual dalam bentuk souvenir atau barang yang sudah jadi,” tutupnya.