Australia Tunggu Jawaban Jokowi Mengenai Tawaran Tukar Napi

Australia Tunggu Jawaban Jokowi Mengenai Tawaran Tukar Napi

KabarDunia.com – Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arrmanatha Nasir, ketika dikonfirmasi oleh Suara Pembaruan pada hari Kamis (5/3) pagi, berkata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah memberi tau permintaan khusus Menlu Australia Julie Bishop terhadap Presiden Jokowi. Adapun permintaan itu terkait mengenai penawaran untuk melakukan pertukaran narapidana (napi) guna menyelamatkan nyawa kedua terpidana mati dari kasus Bali Nine.

“Ibu Menlu telah memberi tau hasil pembicaraannya kepada Bapak Presiden,” ujar Arrmanatha.

Pihak Kemlu sekarang tinggal menantikan keputusan dari Presiden Jokowi. Bishop juga memberikan kritikan keras mengenai proses pemindahan kedua tahanan tersebut yakni Chan serta Sukumaran dengan menyebut bahwa Indonesia seolah memamerkan kekuatannya dengan memborgol kedua tahanan serta mengawal dengan kendaraan-kendaraan lapis baja. Menurut Arrmanatha, faktor itu adalah hanya sekedar faktor teknis dan yang berhak menjawab ialah kepolisian serta Kejaksaan Agung.

Di Canberra sendiri, seperti yang dilansir dari The Age, Bishop telah mengonfirmasi mengenai pembicaraannya dengan Menlu Retno untuk memberikan opsi penawaran tukar napi tersebut pada hari Selasa (3/2) malam.

“Apa yang kami ingin perbuat adalah memperoleh peluang untuk menuturkan mengenai opsi-opsi yang terdapat dalam wilayah pemindahan napi, serta pertukaran napi,” ujar Bishop ketika ditemui dalam rangka solidaritas penyalaan lilin untuk menentang eksekusi mati yang dilaksanakan di luar Gedung Parlemen, Canberra, Kamis (5/3) pagi.

Sementara itu media The Australian juga mengabarkan secara detil komunikasi telepon yang terjadi antara kedua menlu tersebut yang dikabarkan berjalan sangat tegang. Bishop awalnya menawarkan pemulangan tiga terpidana kasus narkoba yang berasal dari Indonesia untuk ditukar dengan hukuman Andrew Chan serta Myuran Sukumaran yang dijatuhi seumur hidup.

“Saya tak masuk ke dalam detil spesifik, tapi saya memberi tau ada napi Australia berada di Jakarta serta ada napi Indonesia yang berada di Australia serta kami sewajibnya menggali sejumlah kemungkinan, untuk melakukan pertukaran napi, pemindahan, serta mungkin dapat dilakukan di bawah payung hukum Indonesia,” lanjut Bishop

Kesepakatan itu sendiri dapat termasuk dengan tiga warga Indonesia yang telah dipenjara di Australia sebab permasalahan narkoba pada tahun 1998. Mereka ialah Saud Siregar, Kristito Mandagi serta Ismunandar, mereka adalah ceo, kapten, serta teknisi kapal yang kedapatan sedang  membawa 390 kilogram heroin, termasuk didalamnya heroin murni seberat 252,3 kilogram jika ditaksir bisa seharga 600 juta dollar Australia alias setara Rp 7,7 triliun.

Mereka bertiga ditangkap ketika dalam operasi gabungan yang dilakukan aparat keamanan serta imigrasi Australia tahun 1998 di sekitar pantai dekat Pelabuhan Macquarie, New South Wales. Kristito dibebani hukuman seumur hidup tanpa diberi pembebasan bersyarat selama 25 tahun, sedangkan untuk dua tahanan lainnya dijatuhkan 20 tahun hukuman penjara.

Berdasarkan sistem hukum yang berlaku di  Australia, Kristito berhak memperoleh pembebasan secara bersyarat pada Oktober 2017 nanti. sedangkan Saud serta Ismunandar diizinkan untuk mengajukan pembebasan bersyarat pada tahun 2018. Media Australia juga menyebut ketiga orang tersebut membawa heroin  hampir 47 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan yang dibawa Chan serta Sukumaran.

Tony Abbott, Perdana Menteri Australia juga mengakui pertukaran napi telah dibicarakan dengan pemerintah di Jakarta serta dirinya sedang menantikan respons balasan dari Indonesia.

“Kami mencari segala peluang untuk menjelajahi setiap opsi yang mungkin terdapat untuk kita, setiap jalan yang mungkin terdapat untuk menyelamatkan nyawa kedua pria ini,” jelas Abbott yang juga turut hadir dalam rangka penyalaan lilin solidaritas pada Kamis pagi, seperti yang dilansir dari The Australian.

Abbott juga menambahkan bahwa ia menyampaikan permintaan untuk berbicara dengan Presiden Indonesia, akan tetapi dia tidak bisa memastikan bakal terwujud atau tidak.

“Orang-orang Indonesia butuh tahu bahwa ini sangat penting bagi kami. Kami berdiri teguh untuk nilai-nilai kami. Kami juga  menghormati Indonesia, kami juga akan menghargai persahabatan dengan Indonesia, akan tetapi kami berdiri untuk nilai-nilai serta berdiri untuk melindungi warga kami karena mereka adalah warga Australia,” lanjutnya.

Sementara itu, Presiden Jokowi, kepada Al Jazeera, berkata bahwa eksekusi mati Chan serta Sukumaran tak bakal dilaksanakan pekan ini.