Diduga Sopir Bus Sang Engon Kelelahan, 16 orang Meninggal

Diduga Sopir Bus Sang Engon Kelelahan, 16 orang Meninggal

KabarDunia.com – Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jateng memastikan bahwa bus Sang Engon yang siang tadi mengalami kecelakaan maut di Tol Jatingaleh KM 9.300 lingkar tol Jangli Semarang, adalah armada baru keluaran tahun 2012 serta masih normal dan laik jalan.

“Selain itu, penyebab kecelakaan adalah faktor human eror jadi kelalaian pengemudi yang diduga kelelahan, menjadi penyebab mutlak tragedi kecelakaan yang menewaskan 16 korban,” ujar Dir Lantas Polda Jawa Tengah, Kombes Istu Hari saat sedang melakukan olah TKP lanjutan di daerah sekita lokasi kecelakaan, Semarang, Sabtu (21/2).

Berdasarkan info yang didapat petugas Satlantas, di dalam bus hanya terdapat satu sopir dengan nama M Husen warga daerah Gudang Stasiun RT 4 RW 8, Babat, Lamongan, Jawa Timur.

“Dia sopir tunggal yang tak dibekali sopir cadangan alias sopir penggantinya,” kelakarnya.

Istu menjelaskan, rombongan pengajian berangkat dari Bojonegoro pada hari Kamis (19/2) kurang lebih pukul 16.00 WIB, serta tiba di Pekalongan kurang lebih pukul 03.00 WIB.

Rombongan jamaah bus Sang Engon yang berjumlah 73 orang tersebut mengikuti pengajian di rumah Habib Lutfi. Hingga pukul 10.00 WIB kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Bojonegoro.

Diduga, ketika di Tol Jatingaleh lingkar Jangli, Kota Semarang itulah, sopir telah mulai lelah sebab perjalanan jauh. Tidak hanya itu rombongan tak langsung pulang tetapi hendak mampir ke Kabupaten Semarang untuk mengikuti pengajian kembali.

“Kalau lelah, daya tahan akan sangat mempengaruhi konsentrasi sang sopir dalam mengendalikan kendaraan bus,” tuturnya.

Untuk memastikan penyebabnya, Sabtu (21/2) pagi hingga siang tadi oleh tim Traffic Accident Analyst (TAA) Ditlantas Polda Jateng dibantu drone, meperbuat olah TKP lanjutan.

“Tujuanya untuk menonton detail momen yang nantinya disusun serta mempunyai info tentu detik-detik kecelakaan,” ungkapnya.

Hasil sementaranya, sopir Mohammad Husen kelelahan itu melaju dengan kecepatan 115 km/jam. Sopir dapat melalui tikungan pertama serta menyalip tiga mobil.

“Tetapi 200 meter berikutnya ia tak mengurangi kecepatan bus, padahal tikungan di lokasi tesebut cukup curam  serta berbentuk memutar. Apalagi, sopir belum menguasai medan. Tapi kalau saja sopir mematuhi rambu-rambu yaitu kecepatan 40 km/jam atau dengan kata lain kecepatan kurang dr 60 km/jam, maka bisa jadi tak bakal terjadi kecelakaan seperti ini,” pungkasnya.

Dalam kecepatan tinggi, sopir yang telah memasuk ke gigi lima tak dapat menurunkannya jadi kecepatan masih kencang. Walau telah banting setir, tetapi daya sentrifugal masih menyeret bus yang telah mulai miring ke kanan hingga menabrak beton pembatas jalan.

Bus bernopol B 7222 KGA itu lalu melompati beton pembatas jalan serta jatuh dengan posisi tahap kiri diatas. Bus itu semakin meluncur hingga menabrak dinding tebing.

“Bus yang sewajibnya berukuran 58 orang diisi 73 orang. Mau tak mau sangat berpengaruh kepada sistem kerja setir serta daya sentrifugal juga daya rem mobil pasti terganggu,” ujarnya.